Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Amarah Terpendam

Amarah Terpendam

Tuhanku ..
Hari ini Kau izinkan aku
meneguk manisnya rasa dunia
meski caci maki bermuram durja
menusuk menembus paru-paru
yang kulindungi rasa diam

Ku adukan jerit perih dengan lirih
Dan kumohonkan kesabaran
Sebelum kudirundung sesal yang mendalam

Aku masih merasa berada dititik terbawah
menjadi alas dan senantiasa mencium
bau busuk sandal para manusia pongah
yang berjalan gagah ,semakin adidaya
dengan permainan petak umpet dibalik
selembar kertas bernilai rupiah

Apa yang dikatakan kelas bawah selalu salah
"hanya akulah yang benar,yang telah tenar"
Tenar dengan kebohongan
Tenar dengan tipuan
Tenar dengan cap maling

Memberi sedikit langsung pamrih
Iklan sana-sini mencari sensasi
Menyemai benih agar masih tetap terpilih

Cuih ..
Lihatlah ! Anak itu buncit bukan bunting

Berhentilah serakah
Dan jangan banyak bicara
Berilah rasa nyata
Taman Hati

Taman Hati

Mengapa taman hati urung jua menghijau?
Daun-daun meranggas ranting-ranting patah.

Dimusim hujan gemercik air menyiram semua petaka jiwa.
Menghempas segala debu hitam yang mengungkung diri.
Tapi musim ditaman hati belum jua berganti.
Seperti kota mati tak berpenghuni.

Mungkin kuharus rebah khusyuk merenungi diri.
Mengapa taman hatiku mati
Karena bukan kerena pedih sakit hati patah hati
Tapi seperti ada unsur Ilahi tak Ridhoi laku di diri


Maaf .. Harus Kuakhiri

Maaf .. Harus Kuakhiri

Kumenatapmu tanpa ada lagi rasa
Pesona yang dulu ada 
kini yang kulihat hanya rona biasa
tak terlukis lagi di atas wajah sahaja 
lengkung indah warna warni pelangi 
yang dulu terhias meng'elokan rupa yang kudamba.

Tanpa ada sisa ,satu tetespun tinta 
telah mengering kuhabiskan untuk menuliskan setiap rasa di alam rindu dahulu.
Kau kini adalah kenangan
Terkubur disetiap petang yang terlupakan 
tak menjelma lagi 
dalam lamunan malam saat sunyi.

Cukup sudah permainan ini
Kuharapkan cintapun mati
Biar ku tak lelah lagi berlari
Mengejarmu dalam mimpi

Aku akhiri setelah lelah tanpa jeda
Jendela hati kututup
Biar kubuka kembali suatu hari nanti
Kini biarkanlah aku berjalan lagi
Sendiri tanpa ada lagi inginku meraihmu
Sialajang Malang

Sialajang Malang

aku hanyalah seorang lajang malang
tersiksa menahan perih pandangan
pakaian para perawan cumpang camping tak karuan

Aku hanyalah si lajang malang
Merana di sisa-sisa hari
Melantunkan melodi pedih
Teriris nafsu birahi

"apa yang kau inginkan dari baju belel rok mini nyaris telanjang wahai insan keindahan dunia?"

Kau adalah perhiasan terindah
Yang pertama tertangkap indera mata

Demi Tuhan aku hanyalah silajang malang
Yang menjerit kesakitan
Hampir tumbang terbabi buta godaan
Aku hanyalah insan lemah iman

Ingat selalu ada Tuhan memperhatikan
Mengutus malaikat suci mencatat kepribadian
Yang tak akan terlupakan
Untuk ditunjukan kepada kita
Apa yang harus dipertanggungjawabkan

Aku tersiksa, merana ,sesekali ingin ku teriak marah
Sekali lagi aku hanyalah silajang malang
Yang merana tersayat keindahan semu
Untuk Sahabat

Untuk Sahabat

Sahabat..
Tanpa harus banyak tanda tanya
Pertemuan itu adalah ujian waktu berjalan
Untuk mengukir kenangan ,menjalin erat hubungan sampai batas waktu yang ditentukan.

Sahabat..
Dalam kurun waktu bersamaan
Kita telah dicoba dengan polemik permasalahan
Mengenai kebutuhan ,dan kita telah berdiri dan berjalan sesuai argumen yang berbeda.
Ternyata kita tak serasa, beda selera, beda kacamata dalam memandang realita.

Dan yang tak terasa adalah waktu yang berjalan
Telah menghantarkan kita pada usia dewasa
Aku baru terbangun dan melihat kau diketinggian
Mengibarkan bendera ,mengangkat kepal tangan dan berteriak "Aku Berhasil".
Wow .. Ternyata aku terlalu lama diam dan terjatuh.
Kini aku kembali melangkahkan kakiku, berjalan pelan entah kapan sampai ,melewati lembah dan terjal.
Aku harus melangkah, menyusulmu.
Prasangka

Prasangka

Terjebak dalam prasangka
Risaumu terbuai pikirmu
Seolah kau merasa lemah
Lalu kau memanah kearahku
Seakan aku buruan yang akan kau panggang untuk santapan malammu.

Kau dengar lirih itu ?
Merintih memanggil satu jiwa halus
Menembus belukar ,merapal jejak tapi tak sampai
Lalu memanggilmu kembali dari jauh
Berharap kau berpaling,dan melihatku
Yang telah ringkih ,lelah dalam harap menanti sambutmu.

Kau dusta saat kau menilaiku lebih baik
Kau lemah karena prasangka
Enggan kau mencoba, pengecut karena takut
Gengsi kau pelihara.

Saat aku bisa kau risau
Kau cabut pisau dari lidahmu
Lalu kau sayat aku dengan kata-katamu
Hari Ini

Hari Ini

Terik pagi seakan ajakku menari
Ayo Zak kembali berdiri
Gerakan kaki buat harmoni
Ini bukan dunia Fantasi
Jadi tak perlu lagi banyak basa-basi
Esok hari itu misteri
Hari ini takan ada lagi
Hari kemarin telah dilewati
Anggap saja telah mati

Kutersenyum pada pagi
Yang membangunkanku kembali
Mempersembahkan kemuning mentari
Untuk kuhisap menjadi energi

Jika hari ini mereka bercaci-maki
Maka hari ini aku berbaik hati
Hari ini akan kulewati
Dengan penuh cengengesan dan ceria
Kita bahagia dan buat apa lagi mengeluh sengsara
Kita bahagia karena hari ini masih ada usia
Pemangsa Jiwa

Pemangsa Jiwa

Berdasar urutan waktu yang tertampung dalam bejana rindu
Beriak lembut melewati dasar logika
Mewarisi satu makna tentang bahagia
Kadang kau kusebut penjajah
Menyiksa waras membuatku seakan tak punya akal budi
Kadang juga kau kusebut siluman
Uap asap hembusanmu menulari naluri kecilku
Kau ada dan selalu ada tanpa terlihat hanya dirasa
Kaulah cinta
Mangsamu adalah mereka sipemilik hati
Kau bermuara di alam sadar